Sep 12

Training Metodologi Penelitian

Dialog dengan Ibu Enny Sulistiani dari Kementrian Koperasi dan UKM JakartaFederasiHapsari: Tahun 2014, HAPSARI memutuskan untuk fokus pada kegiatan program penguatan ekonomi, bagi perempuan pelaku gerakan di organisasi (HAPSARI dan serikat-serikat anggotanya). Ini sesuai dengan isu strategis tiga HAPSARI (memperkuat ekonomi perempuan pelaku gerakan dan organisasi). Sewaktu merencanakan kegiatan itu, kami berangkat dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di serikat-serikat anggota HAPSARI yang menghadapi masalah keterbatasan keuangan dalam rumah tangga. Uang yang ada, sering tak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga; mulai dari belanja harian, membayar uang sekolah anak, biaya sosial (kondangan, dll), biaya berobat ketika sakit, dan sebagainya. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/09/12/training-metodologi-penelitian/

Sep 05

Bongkar Tabu Kekerasan Seksual

FederasiHapsari: Perempuan mi1skin dan Korban kekerasan seksual harus dapat mengakses layanan (layanan penanganan kasus/pemulihan/pemenuhan hak) yang berkualitas dan berkesinambungan. Oleh karena itu, meningkatnya jumlah anggota masyarakat yang peduli dalam mendampingi perempuan miskin dan korban Kekerasan seksual menjadi hal yang sangat penting.

Demikian juga dari kalangan perempuan miskin dan perempuan korban kekerasan seksual sendiri, harus memiliki tentang hak dan akses terhadap layanan tersebut. Perempuan miskin dan korban kekerasan seksual dapat mengorganisir diri untuk menjadi kelompok sadar yang terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan advokasi.

Untuk mendorong, meningkatnya kesadaran korban kekerasan seksual tentang hak dan akses terhadap layanan dan meningkatnya jumlah anggota masyarakat yang peduli dalam mendampingi perempuan miskin dan korban Kekerasan seksual, HAPSARI bergabung melalui Komnas Perempuan mengakses Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan).

HAPSARI mempersiapkan diri mengambil peran menumbuhkan lembaga pengada layanan di tingkat komunitas (kalangan perempuan akar rumput), sekaligus mendorong komunitas untuk menyiapkan dirinya sendiri sebagai lembaga pengada layanan.

Untuk menuju ke sana, salah satu kegiatan rutin yang dilakukan HAPSARI bersama serikat-serikat anggotanya adalah : Diskusi Komunita Membongkar Tabu Kekerasan Seksual.***

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/09/05/perempuan-korban-kekerasan/

Agu_August_abbreviation 24

Akhirnya Berbisnis!

Lely ZailaniOleh : Lely Zailani

Selama ini Jogyakarta memang sangat dikenal sebagai daerah wisata dengan banyak produk dan hal menarik, mulai dari “Gudeg, Bakpia, Keraton, Malioboro, Parang Tritis dan Nyi Roro Kidul, hingga Merapi dengan Mbah Marijannya”.

Ternyata tak hanya itu. Ada produk istimewa lainnya di Jogyakarta, tepatnya di kabupaten Kulon Progo, yaitu kopi. Kopi merupakan salah satu dari lima komoditas unggulan di bidang perkebunan selain cengkih, teh, kelapa, dan kakao. Luas tanaman kopi berdasarkan data 2011 mencapai 1.290 hektare yang berada di Kecamatan Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo dan sebagian Pengasih. Hasil produksi kopi di Kabupaten Kulon Progo, terus mengalami peningkatan atau rata-rata per tahunnya mencapai 340 ton[1]. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/08/24/akhirnya-berbisnis/

Jul 21

Social Media untuk Memperkuat Advokasi

Bersama Mentor : Kami mulai belajar tentang apa itu social media (Facebook) sekaligus melihat seperti apa Facebook itu.

Bersama Mentor : Kami mulai belajar tentang apa itu social media (Facebook) sekaligus melihat seperti apa Facebook itu.

FederasiHapsari: Dalam beberapa peristiwa, media sosial terbukti ampuh sebagai gerakan sosial. Kita masih ingat dengan kasus Prita Muliasari yang memobilisasi dukungan via Facebook dan terbukti dapat mengubah putusan pengadilan. Demikian juga kisah sukses petisi online yang digalang melalui website www.change.org yang memantik gerakan perubahan. Contoh keberhasilan petisi online antara lain: calon hakim agung Daming gagal terpilih sebagai hakim di MA karena melecehkan korban pemerkosaan, MA pula akhirnya didesak mengeluarkan fatwa yang membolehkan Bupati Garut Aceng Fikri dicopot dan banyak contoh keberhasilan lainnya. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/07/21/social-media-untuk-memperkuat-advokasi/

Jul 15

Menjadi Indonesia Beragam

indonesia BeragamHAPSARI cukup bangga, karena untuk berkontribusi dalam memperkuat gerakan perempuan nasional sebagaimana mandat dari tujuan strategis yang hendak dicapai, telah menemukan wadahnya dalam INDONESIA BERAGAM.

Kerinduan akan gerakan kolektif perubahan semakin tak terbendung. Berawal dari perbincangan kecil di kantor Koalisi Perempuan Indonesia pada tanggal 4 January 2014 tentang pentingnya gerakan perempuan merespon agenda politik Pemilu untuk Indonesia yang lebih baik. KAPAL Perempuan, Migrant CARE, Kalyanamitra, Solidaritas Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia dan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia akhirnya bersepakat mengusung 10 Agenda Politik Perempuan dalam pesta demokrasi pada Pemilu 2014. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/07/15/menjadi-indonesia-beragam/

Jun 04

UU Desa dan Problem Partisipasi Perempuaan

Oleh : Lely Zailani

Ketua Dewan Pengurus HAPSARI

Setelah agenda desentralisasi dan demokratisasi dibingkai dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 yang dihasilkan oleh tuntutan reformasi, kini Desa mengalami “kebangkitan” dengan lahirnya UU Desa Nomor 6 Tahun 2014.

UU Desa dan Tantangan bagi Partisipasi PerempuanUU Desa telah menjadi catatan bersejarah dalam agenda percepatan pembangunan nasional, sekaligus menjadi landasan hukum menciptakan momentum membangun gerakan pembaharuan dan pembangunan di desa. Dalam UU Desa, partisipasi masyarakat dirumuskan melalui hak dan kewajiban masyarakat (Bab VI, Pasal 68). UU Desa mewajibkan masyarakat desa untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan desa dan musyawarah desa.

Partisipasi menjanjikan suatu proses yang bersifat kolaboratif dimana seluruh lapisan masyarakat (laki-laki dan perempuan) dapat merumuskan tujuan bersama (common goals), terlibat di dalam pengambilan keputusan kolektif dan menciptakan ruang bersama sebagai tempat mengekspresikan keinginan bersama. Partisipasi mengandung konten kesetaraan dimana setiap suara dalam pertemuan dinilai sebagai input warga negara tanpa melihat dari jenis kelaminnya. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/06/04/uu-desa-dan-problem-partisipasi-perempuaan/

Post sebelumnya «