Okt_October_abbreviation 09

Memotong Rantai Kemiskinan Perempuan Petani

Lely Zailani

Lely Zailani

Potongan Makalah Pada konferensi Nasional Perkumpulan Prakarsa

Tgl.08 Oktober 2014 di Jakarta

Oleh : Lely Zailani

FederasiHapsari: Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah menjadi babak baru tumbuhnya otonomi daerah yang diharapkan menjadi pintu masuk bagi terwujudnya pembangunan yang lebih adil dan demokratis dengan partisipasi aktif seluruh masyarakat, laki-laki dan perempuan. Otonomi daerah telah mendorong daerah-daerah (kabupaten/kota) melakukan pengembangan ekonomi lokal, melalui kemampuan memobilisasi serta memproduksi berbagai sumberdaya yang dimiliki untuk memperkuat daya saing pengembangan ekonomi daerah. Ini adalah proses dimana pemerintah lokal dan organsisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara, aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/10/09/memotong-rantai-kemiskinan-perempuan-petani/

Okt_October_abbreviation 07

Mendialogkan Harapan

Dialog Program SPI dengan Bupati Kulon Progo.

Dialog Program SPI dengan Bupati Kulon Progo.

FederasiHapsari: Setelah menetapkan salah satu isu strategis HAPSARI tahun 2014 adalah “Memperkuat Ekonomi Perempuan Pelaku Gerakan dan Organisasi”, akhirnya harapan untuk mampu mengatasi permasalahan-permasalahan ekonomi (keuangan) yang dihadapi pengurus, anggota dan organisasi HAPSARI sendiri, pelan-pelan akan dijawab. Diantaranya, melalui salah satu program utama HAPSARI yaitu Penguatan Basis Produksi. Program ini sudah lama diuji coba, mulai tahun 2011 bersama dengan PERGERAKAN Bandung. Apa yang menjadi harapan ini, kemudian didialogkan oleh serikat-serikat anggota HAPSARI, dengan kalangan pemerintah daerah di wilayah kerja mereka masing-masing. Harapannya, akan mendapat dukungan konkrit, sampai berupa program kerjasama. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/10/07/mendialogkan-harapan/

Sep 30

Menjawab Tantangan Menangkap Peluang

Proses Wawancara dalam Penelitian di Kab.Serdang Bedagai

Proses Wawancara dalam Penelitian di Kab.Serdang Bedagai

FederasiHapsari: Usaha ekonomi, seperti Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) di Indonesia berkontribusi sekitar 57% dari seluruh kegiatan ekonomi termasuk ekspor dan impor. Pelibatan tenaga kerja disektor UMKM mencapai tak kurang dari 96%. Perempuan memiliki 33% UMKM di Indonesia dan jumlahnya tumbuh 8% dari tahun ketahun (Asia Foundation, n.d). Berdasarkan undang-undang nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM pasal 7 ayat (1), sudah seharusnya “pemerintah dan pemerintah daerah membantu menumbuhkan iklim usaha”. Pernyataan ini juga didukung oleh pasal 7 ayat (2) bahwa “ dunia usaha dan masyarakat dapat secara aktif menumbuhkan iklim usaha”. Akan tetapi dalam menumbuhkan dan mengembangkan usaha ekonomi, masyarakat khususnya perempuan masih menghadapi tantangan-tantangan, walaupun sebenarnya cukup banyak juga peluang yang dapat dimanfaatkan. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/09/30/menjawab-tantangan-menangkap-peluang/

Sep 12

Training Metodologi Penelitian

Dialog dengan Ibu Enny Sulistiani dari Kementrian Koperasi dan UKM JakartaFederasiHapsari: Tahun 2014, HAPSARI memutuskan untuk fokus pada kegiatan program penguatan ekonomi, bagi perempuan pelaku gerakan di organisasi (HAPSARI dan serikat-serikat anggotanya). Ini sesuai dengan isu strategis tiga HAPSARI (memperkuat ekonomi perempuan pelaku gerakan dan organisasi). Sewaktu merencanakan kegiatan itu, kami berangkat dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di serikat-serikat anggota HAPSARI yang menghadapi masalah keterbatasan keuangan dalam rumah tangga. Uang yang ada, sering tak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga; mulai dari belanja harian, membayar uang sekolah anak, biaya sosial (kondangan, dll), biaya berobat ketika sakit, dan sebagainya. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/09/12/training-metodologi-penelitian/

Sep 05

Bongkar Tabu Kekerasan Seksual

FederasiHapsari: Perempuan mi1skin dan Korban kekerasan seksual harus dapat mengakses layanan (layanan penanganan kasus/pemulihan/pemenuhan hak) yang berkualitas dan berkesinambungan. Oleh karena itu, meningkatnya jumlah anggota masyarakat yang peduli dalam mendampingi perempuan miskin dan korban Kekerasan seksual menjadi hal yang sangat penting.

Demikian juga dari kalangan perempuan miskin dan perempuan korban kekerasan seksual sendiri, harus memiliki tentang hak dan akses terhadap layanan tersebut. Perempuan miskin dan korban kekerasan seksual dapat mengorganisir diri untuk menjadi kelompok sadar yang terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan advokasi.

Untuk mendorong, meningkatnya kesadaran korban kekerasan seksual tentang hak dan akses terhadap layanan dan meningkatnya jumlah anggota masyarakat yang peduli dalam mendampingi perempuan miskin dan korban Kekerasan seksual, HAPSARI bergabung melalui Komnas Perempuan mengakses Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan).

HAPSARI mempersiapkan diri mengambil peran menumbuhkan lembaga pengada layanan di tingkat komunitas (kalangan perempuan akar rumput), sekaligus mendorong komunitas untuk menyiapkan dirinya sendiri sebagai lembaga pengada layanan.

Untuk menuju ke sana, salah satu kegiatan rutin yang dilakukan HAPSARI bersama serikat-serikat anggotanya adalah : Diskusi Komunita Membongkar Tabu Kekerasan Seksual.***

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/09/05/perempuan-korban-kekerasan/

Agu_August_abbreviation 24

Akhirnya Berbisnis!

Lely ZailaniOleh : Lely Zailani

Selama ini Jogyakarta memang sangat dikenal sebagai daerah wisata dengan banyak produk dan hal menarik, mulai dari “Gudeg, Bakpia, Keraton, Malioboro, Parang Tritis dan Nyi Roro Kidul, hingga Merapi dengan Mbah Marijannya”.

Ternyata tak hanya itu. Ada produk istimewa lainnya di Jogyakarta, tepatnya di kabupaten Kulon Progo, yaitu kopi. Kopi merupakan salah satu dari lima komoditas unggulan di bidang perkebunan selain cengkih, teh, kelapa, dan kakao. Luas tanaman kopi berdasarkan data 2011 mencapai 1.290 hektare yang berada di Kecamatan Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo dan sebagian Pengasih. Hasil produksi kopi di Kabupaten Kulon Progo, terus mengalami peningkatan atau rata-rata per tahunnya mencapai 340 ton[1]. Baca kelanjutan entri ini »

Tautan permanen menuju artikel ini: http://hapsari.jejaring.org/2014/08/24/akhirnya-berbisnis/

Post sebelumnya «